Minggu, 15 Agustus 2010

KESUCIAN QOLBU DALAM MEMAKNAI BULAN RAMADHAN

Banyak masyarakat kita menyambut bulan ramadhan yang penuh berkah ini dengan berbagai ragam cara, sesuai dengan kultur masing-masing daerah. Banyak orang juga memaknai bulan ramadhan, dengan berbagai paradigma masing-masing.

Di sisi lain dekadensi moral masih banyak mewarnai kehidupan masyarakat kita, pornografi yang makin marak, apalagi aktornya Publik Figur yang diidolakan para remaja yang notabene remaja kita masih mencari jati diri melalui proses meniru para idolanya. Tidak menutup mata banyak generasi sekarang terjebak dengan gaya hidup hedonisme. Gaya hidup yang memuja kebahagiaan dari sisi kemewahan belaka. Problem-problem sosial seperti sex bebas yang mengakibatkan timbulnya pembuangan dan perdagangan bayi yang tak berdosa, tawuran, yang masih menjadi problematika di masyarakat.

Melihat tayangan Infotainment dari semenjak bangun pagi sampai berangkat tidur, telivisi berlomba-lomba menyajikan berita fantastis seseorang dimuka umum, dilihat jutaan pemirsa mulai dari anak-anak sampai orang tua, mereka hanya mengejar rating, tanpa mengindahkan etika dan dampak negatifnya di masyarakat. ,

Sebagai seorang muslim bagaimana kita mensikapi bulan ramadhan ini dengan penuh makna “Cinta Tuhan” dan “Cinta Sesama” terhadap permasalahan yang ada disekitar kita.
Ramadhan bisa sebagai tonggak kesadaran, bahwa selama setahun kita dipersembahkan satu bulan “tertinggi dan mulia” untuk mengingat penuh kepada yang Maha Pencipta karena dalam sebelas bulan yang lain kita banyak berkutat kepada hal-hal bersifat keduniawian, mari kita tata pikiran dan hati kita untuk hadir dan bersimpuh dihadapan Alloh SWT.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang suci, mulia, dan bulan yang penuh berkah dimana bulan ramadhan merupakan bulan diturunkannya Kitab Suci Al Quran (Malam Lailatul Qodar) sekaligus sebagai petunjuk bagi umat manusia yang disertai penjelasan-penjelasan dari petunjuk tersebut, serta pembeda antara yang Haq/benar dengan yang Bathil/salah, yang haram dan yang halal.

Dalam bulan ramadhan kita diharuskan berpuasa menahan makan dan minum, menahan marah, mencegah berkumpul dengan istri/suami disiang hari, menurut Imam Al Ghozali berpuasa adalah memuasakan seluruh anggota badan maupun qolbu, dari bentuk kekhilafan baik yang di sengaja maupun tidak sengaja.

Bulan ramadhan sebagai media proses pencucian diri melalui bentuk me muasakan anggota tubuh, misalnya : mata kita tidak boleh melihat hal-hal yang menimbulkan nafsu, lidah kita senantiasa terjaga dari bicara sembarangan/ghibah sehingga tidak menyakiti orang lain, telinga untuk mendengarkan hal-hal yang baik, dan kedua tangan tidak akan merugikan orang lain. Angota tubuh semua harus benar-benar menghadap kepada sang pencipta melalui : membaca dan memahami isi Al Quran, Itikaf, mengkaji buku keagamaan, dan perbuatan baik lainnya.

Pencucian Rohani melalui bentuk me muasakan Qolbu/Hati misalnya dulu kita sering suudzon/berprasangka negatif kepada orang lain, iri dan dengki, kurang istiqomah, cepat marah. Di bulan suci ini kita mencoba berpikir positif, Istiqomah, sabar, dan sebagainya, menuju kepada meningkatnya keimanan dan ketaqwaan kita.
Ditinjau segi jasmani/fisik, dengan puasa kita bisa mengistirahatkan jasmani khususnya pencernaan, lambung, untuk tidak bekerja secara terus menerus, sebab jasmani kita bukan mesin, sedangkan mesin saja masih istirahat.

Dari segi rohani, berpuasa bisa kita petik hikmahnya, antara lain Memiliki makna arti pengendalian diri, melatih menahan nafsu, melatih diri bagaimana kita harus bisa membedakan makanan yang akan kita makan itu halal atau haram, sehingga rohani kita menjadi bersih terhindar dari penyakit hati.

Bulan Ramadhan merupakan bulan dimana pahalanya dilipatgandakan bagi mereka yang beramal shalih. Marilah, berlomba lomba berbuat kebaikan dan memaknai bulan ramadhan dengan amal shalih meskipun di bulan lainnya kita juga harus tetap beramal shalih.

Esensi dalam bulan yang penuh berkah ini merupakan proses Pendidikan dan pelatihan (Diklat) sebagai sarana penggemblengan jasmani maupun rohani, untuk membina mental spiritual kita, mulai dari lingkup terkecil keluarga, baru kemudian ke lingkungan sekitar, dalam menghadapi problema sosial yang ada disekitar kita khususnya mengenai moralitas generasi yang semakin merosot.
Jadi kita patut bersyukur dengan datangnya bulan ramadhan, karena puasa membebaskan diri dari belenggu keduniawian dan menjaga fitrahnya dalam rangka memakmurkan bumi dijalan Alloh SWT. Mengisi serta memanfaatkan sebaik-baiknya bulan ramadhan dengan penuh keikhlasan untuk beribadah kepada Allah SWT, semoga kita dipertemukan lagi dengan bulan ramadhan berikutnya.

Kemudian diakhir bulan Ramadhan atau sebelum Hari raya Idul Fitri (I syawal) kita diwajibkan membayar zakat karena merupakan salah satu rukun islam . Hikmah dari Zakat adalah untuk membersihkan segala macam dosa dalam diri, pembersih harta, menghilangkan sifat kikir, sebagai tanda syukur atas nikmat Alloh, sebagai penjalin cinta dan kasih sayang antara yang kaya dan miskin dan sekaligus penyempurna Ibadah Puasa kita.

Harapan dengan datangnya bulan ramadhan yang suci ini berdampak positif, timbulnya keshalihan akhlak yang menuju kepada moralitas yang baik untuk membentengi masyarakat kita dari dampak negatif derasnya arus globalisasi serta keshalihan sosial karena dengan puasa menahan lapar dan dahaga, kita bisa merasakan kehidupan orang miskin, sehingga menimbulkan “Human Interest”, yang berupa kepedulian sosial, saling membantu (Tolong-menolonglah dalam berbuat kebaikan dan jangan tolong menolong dalam berbuat kemungkaran), dan dengan puasa yang penuh ikhlas dan iman, dapat mencapai tujuan puasa yang sebenarnya yaitu menjadi manusia yang Muttaqin.

Di penghujung Ramadhan kita jemput Idul Fitri diharuskan kita menjadi manusia-manusia Fitri yang bersih dari khilaf dan dosa, menjadikan kita manusia yang sholeh dan sholehah dalam beribadah maqdhoh sekaligus menjadikan kita manusia yang mempunyai keshalihan sosial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar