Mengejar kebahagian jauh lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Sebagian para Ahli berargumen, kebahagiaan secara luas dipengaruhi oleh genetik, kesehatan dan faktor lain yang berada di luar kontrol manusia.
Namun, penelitian terbaru mengatakan, kebahagiaan dapat ditentukan oleh seseorang melalui beberapa cara yang dapat diterapkan.
"Pertanyaan yang biasa disebutkan orang, mungkinkah kita menjadi lebih bahagia. Disamping penemuan yang mengatakan hal itu sebagian ditentukan secara genetik dan penelitian yang mengatakan situasi dalam kehidupan merupakan faktor kecil dari menemukan kebahagiaan, kami memiliki argumen bahwa tetap ada kemampuan diri seseorang untuk memperjuangkan kebahagiaan," ujar Psikologi dari University of California, Sonja Lyubomirsky.
Sonja menuturkan hal tersebut pada pertemuan tahunan American Association Advancement of Science. Dia dan rekan peneliti melalukan review terhadap 51 penelitian yang membahas bagaimana cara meningkatkan rasa bahagia melalui pemikiran positif.
Hasilnya, mereka menemukan bahwa cara-cara itu dapat benar-benar berhasil. Berikut lima cara yang diungkapkan oleh Sonja dan tim peneliti mengenai cara meningkatkan rasa bahagia, yaitu:
1. Bersyukur. Sebagian dari para partisipan dalam studi diminta untuk menulis surat kepada orang-orang yang dianggap telah membantu mereka. Penelitian kemudian membuktikan, para partisipan tersebut bisa meningkatkan rasa bahagia mereka selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan setelah mempraktekkan kebiasaan tersebut. Yang mengejutkan, surat yang dibuat tanpa dikirim, juga bisa dilaporkan menghasilkan efek yang hampir sama.
2. Tetap optimis. Sikap berpikir positif itu dianggap sangat membantu seseorang bahagia. Para partisipan studi diminta untuk memvisualisasikan masa depan ideal, misalnya hidup bersama pasangan yang dicintai atau memperoleh pekerjaan yang sangat sesuai. Kemudian menggambarkan pandangan tersebut disebuah jurnal. Setelah melakukan hal itu selama beberapa minggu, para partisipan itu dilaporkan bisa meningkatkan rasa bahagia yang mereka rasakan.
3. Hitung berkah yang Anda peroleh. Orang yang menulis tiga hal baik yang mereka alami setiap minggu terbukti mengalami peningkatan rasa bahagia yang signifikan. Tampaknya bersikap positif membantu orang untuk mengingat alasan untuk bahagia.
4. Maksimalkan kelebihan Anda. Sebuah studi lain, bertanya pada partisipan untuk mengidentifikasi kelebihan yang mereka miliki dan menggunakannya dengan cara baru. Contohnya, seseorang mengatakan dia memiliki rasa humor yang baik, bisa saja menggunakannya untuk bercerita pada pertemuan bisnis atau sekedar menghibur teman yang bersedih. Kebiasaan itu, tampaknya juga dapat meningkatkan rasa bahagia.
5. Lakukan hal yang baik. Tak salah jika ada kalimat bijak yang mengatakan, saat Anda membantu orang lain sebenarnya Anda tengah membantu diri sendiri. Orang yang mendonasikan waktu atau uang untuk membantu atau menyediakan tenaganya untuk menolong orang yang membutuhkan, dilaporkan lebih bahagia.
Diambil dari Kompas On- line
Minggu, 15 Agustus 2010
KESUCIAN QOLBU DALAM MEMAKNAI BULAN RAMADHAN
Banyak masyarakat kita menyambut bulan ramadhan yang penuh berkah ini dengan berbagai ragam cara, sesuai dengan kultur masing-masing daerah. Banyak orang juga memaknai bulan ramadhan, dengan berbagai paradigma masing-masing.
Di sisi lain dekadensi moral masih banyak mewarnai kehidupan masyarakat kita, pornografi yang makin marak, apalagi aktornya Publik Figur yang diidolakan para remaja yang notabene remaja kita masih mencari jati diri melalui proses meniru para idolanya. Tidak menutup mata banyak generasi sekarang terjebak dengan gaya hidup hedonisme. Gaya hidup yang memuja kebahagiaan dari sisi kemewahan belaka. Problem-problem sosial seperti sex bebas yang mengakibatkan timbulnya pembuangan dan perdagangan bayi yang tak berdosa, tawuran, yang masih menjadi problematika di masyarakat.
Melihat tayangan Infotainment dari semenjak bangun pagi sampai berangkat tidur, telivisi berlomba-lomba menyajikan berita fantastis seseorang dimuka umum, dilihat jutaan pemirsa mulai dari anak-anak sampai orang tua, mereka hanya mengejar rating, tanpa mengindahkan etika dan dampak negatifnya di masyarakat. ,
Sebagai seorang muslim bagaimana kita mensikapi bulan ramadhan ini dengan penuh makna “Cinta Tuhan” dan “Cinta Sesama” terhadap permasalahan yang ada disekitar kita.
Ramadhan bisa sebagai tonggak kesadaran, bahwa selama setahun kita dipersembahkan satu bulan “tertinggi dan mulia” untuk mengingat penuh kepada yang Maha Pencipta karena dalam sebelas bulan yang lain kita banyak berkutat kepada hal-hal bersifat keduniawian, mari kita tata pikiran dan hati kita untuk hadir dan bersimpuh dihadapan Alloh SWT.
Bulan Ramadhan adalah bulan yang suci, mulia, dan bulan yang penuh berkah dimana bulan ramadhan merupakan bulan diturunkannya Kitab Suci Al Quran (Malam Lailatul Qodar) sekaligus sebagai petunjuk bagi umat manusia yang disertai penjelasan-penjelasan dari petunjuk tersebut, serta pembeda antara yang Haq/benar dengan yang Bathil/salah, yang haram dan yang halal.
Dalam bulan ramadhan kita diharuskan berpuasa menahan makan dan minum, menahan marah, mencegah berkumpul dengan istri/suami disiang hari, menurut Imam Al Ghozali berpuasa adalah memuasakan seluruh anggota badan maupun qolbu, dari bentuk kekhilafan baik yang di sengaja maupun tidak sengaja.
Bulan ramadhan sebagai media proses pencucian diri melalui bentuk me muasakan anggota tubuh, misalnya : mata kita tidak boleh melihat hal-hal yang menimbulkan nafsu, lidah kita senantiasa terjaga dari bicara sembarangan/ghibah sehingga tidak menyakiti orang lain, telinga untuk mendengarkan hal-hal yang baik, dan kedua tangan tidak akan merugikan orang lain. Angota tubuh semua harus benar-benar menghadap kepada sang pencipta melalui : membaca dan memahami isi Al Quran, Itikaf, mengkaji buku keagamaan, dan perbuatan baik lainnya.
Pencucian Rohani melalui bentuk me muasakan Qolbu/Hati misalnya dulu kita sering suudzon/berprasangka negatif kepada orang lain, iri dan dengki, kurang istiqomah, cepat marah. Di bulan suci ini kita mencoba berpikir positif, Istiqomah, sabar, dan sebagainya, menuju kepada meningkatnya keimanan dan ketaqwaan kita.
Ditinjau segi jasmani/fisik, dengan puasa kita bisa mengistirahatkan jasmani khususnya pencernaan, lambung, untuk tidak bekerja secara terus menerus, sebab jasmani kita bukan mesin, sedangkan mesin saja masih istirahat.
Dari segi rohani, berpuasa bisa kita petik hikmahnya, antara lain Memiliki makna arti pengendalian diri, melatih menahan nafsu, melatih diri bagaimana kita harus bisa membedakan makanan yang akan kita makan itu halal atau haram, sehingga rohani kita menjadi bersih terhindar dari penyakit hati.
Bulan Ramadhan merupakan bulan dimana pahalanya dilipatgandakan bagi mereka yang beramal shalih. Marilah, berlomba lomba berbuat kebaikan dan memaknai bulan ramadhan dengan amal shalih meskipun di bulan lainnya kita juga harus tetap beramal shalih.
Esensi dalam bulan yang penuh berkah ini merupakan proses Pendidikan dan pelatihan (Diklat) sebagai sarana penggemblengan jasmani maupun rohani, untuk membina mental spiritual kita, mulai dari lingkup terkecil keluarga, baru kemudian ke lingkungan sekitar, dalam menghadapi problema sosial yang ada disekitar kita khususnya mengenai moralitas generasi yang semakin merosot.
Jadi kita patut bersyukur dengan datangnya bulan ramadhan, karena puasa membebaskan diri dari belenggu keduniawian dan menjaga fitrahnya dalam rangka memakmurkan bumi dijalan Alloh SWT. Mengisi serta memanfaatkan sebaik-baiknya bulan ramadhan dengan penuh keikhlasan untuk beribadah kepada Allah SWT, semoga kita dipertemukan lagi dengan bulan ramadhan berikutnya.
Kemudian diakhir bulan Ramadhan atau sebelum Hari raya Idul Fitri (I syawal) kita diwajibkan membayar zakat karena merupakan salah satu rukun islam . Hikmah dari Zakat adalah untuk membersihkan segala macam dosa dalam diri, pembersih harta, menghilangkan sifat kikir, sebagai tanda syukur atas nikmat Alloh, sebagai penjalin cinta dan kasih sayang antara yang kaya dan miskin dan sekaligus penyempurna Ibadah Puasa kita.
Harapan dengan datangnya bulan ramadhan yang suci ini berdampak positif, timbulnya keshalihan akhlak yang menuju kepada moralitas yang baik untuk membentengi masyarakat kita dari dampak negatif derasnya arus globalisasi serta keshalihan sosial karena dengan puasa menahan lapar dan dahaga, kita bisa merasakan kehidupan orang miskin, sehingga menimbulkan “Human Interest”, yang berupa kepedulian sosial, saling membantu (Tolong-menolonglah dalam berbuat kebaikan dan jangan tolong menolong dalam berbuat kemungkaran), dan dengan puasa yang penuh ikhlas dan iman, dapat mencapai tujuan puasa yang sebenarnya yaitu menjadi manusia yang Muttaqin.
Di penghujung Ramadhan kita jemput Idul Fitri diharuskan kita menjadi manusia-manusia Fitri yang bersih dari khilaf dan dosa, menjadikan kita manusia yang sholeh dan sholehah dalam beribadah maqdhoh sekaligus menjadikan kita manusia yang mempunyai keshalihan sosial.
Di sisi lain dekadensi moral masih banyak mewarnai kehidupan masyarakat kita, pornografi yang makin marak, apalagi aktornya Publik Figur yang diidolakan para remaja yang notabene remaja kita masih mencari jati diri melalui proses meniru para idolanya. Tidak menutup mata banyak generasi sekarang terjebak dengan gaya hidup hedonisme. Gaya hidup yang memuja kebahagiaan dari sisi kemewahan belaka. Problem-problem sosial seperti sex bebas yang mengakibatkan timbulnya pembuangan dan perdagangan bayi yang tak berdosa, tawuran, yang masih menjadi problematika di masyarakat.
Melihat tayangan Infotainment dari semenjak bangun pagi sampai berangkat tidur, telivisi berlomba-lomba menyajikan berita fantastis seseorang dimuka umum, dilihat jutaan pemirsa mulai dari anak-anak sampai orang tua, mereka hanya mengejar rating, tanpa mengindahkan etika dan dampak negatifnya di masyarakat. ,
Sebagai seorang muslim bagaimana kita mensikapi bulan ramadhan ini dengan penuh makna “Cinta Tuhan” dan “Cinta Sesama” terhadap permasalahan yang ada disekitar kita.
Ramadhan bisa sebagai tonggak kesadaran, bahwa selama setahun kita dipersembahkan satu bulan “tertinggi dan mulia” untuk mengingat penuh kepada yang Maha Pencipta karena dalam sebelas bulan yang lain kita banyak berkutat kepada hal-hal bersifat keduniawian, mari kita tata pikiran dan hati kita untuk hadir dan bersimpuh dihadapan Alloh SWT.
Bulan Ramadhan adalah bulan yang suci, mulia, dan bulan yang penuh berkah dimana bulan ramadhan merupakan bulan diturunkannya Kitab Suci Al Quran (Malam Lailatul Qodar) sekaligus sebagai petunjuk bagi umat manusia yang disertai penjelasan-penjelasan dari petunjuk tersebut, serta pembeda antara yang Haq/benar dengan yang Bathil/salah, yang haram dan yang halal.
Dalam bulan ramadhan kita diharuskan berpuasa menahan makan dan minum, menahan marah, mencegah berkumpul dengan istri/suami disiang hari, menurut Imam Al Ghozali berpuasa adalah memuasakan seluruh anggota badan maupun qolbu, dari bentuk kekhilafan baik yang di sengaja maupun tidak sengaja.
Bulan ramadhan sebagai media proses pencucian diri melalui bentuk me muasakan anggota tubuh, misalnya : mata kita tidak boleh melihat hal-hal yang menimbulkan nafsu, lidah kita senantiasa terjaga dari bicara sembarangan/ghibah sehingga tidak menyakiti orang lain, telinga untuk mendengarkan hal-hal yang baik, dan kedua tangan tidak akan merugikan orang lain. Angota tubuh semua harus benar-benar menghadap kepada sang pencipta melalui : membaca dan memahami isi Al Quran, Itikaf, mengkaji buku keagamaan, dan perbuatan baik lainnya.
Pencucian Rohani melalui bentuk me muasakan Qolbu/Hati misalnya dulu kita sering suudzon/berprasangka negatif kepada orang lain, iri dan dengki, kurang istiqomah, cepat marah. Di bulan suci ini kita mencoba berpikir positif, Istiqomah, sabar, dan sebagainya, menuju kepada meningkatnya keimanan dan ketaqwaan kita.
Ditinjau segi jasmani/fisik, dengan puasa kita bisa mengistirahatkan jasmani khususnya pencernaan, lambung, untuk tidak bekerja secara terus menerus, sebab jasmani kita bukan mesin, sedangkan mesin saja masih istirahat.
Dari segi rohani, berpuasa bisa kita petik hikmahnya, antara lain Memiliki makna arti pengendalian diri, melatih menahan nafsu, melatih diri bagaimana kita harus bisa membedakan makanan yang akan kita makan itu halal atau haram, sehingga rohani kita menjadi bersih terhindar dari penyakit hati.
Bulan Ramadhan merupakan bulan dimana pahalanya dilipatgandakan bagi mereka yang beramal shalih. Marilah, berlomba lomba berbuat kebaikan dan memaknai bulan ramadhan dengan amal shalih meskipun di bulan lainnya kita juga harus tetap beramal shalih.
Esensi dalam bulan yang penuh berkah ini merupakan proses Pendidikan dan pelatihan (Diklat) sebagai sarana penggemblengan jasmani maupun rohani, untuk membina mental spiritual kita, mulai dari lingkup terkecil keluarga, baru kemudian ke lingkungan sekitar, dalam menghadapi problema sosial yang ada disekitar kita khususnya mengenai moralitas generasi yang semakin merosot.
Jadi kita patut bersyukur dengan datangnya bulan ramadhan, karena puasa membebaskan diri dari belenggu keduniawian dan menjaga fitrahnya dalam rangka memakmurkan bumi dijalan Alloh SWT. Mengisi serta memanfaatkan sebaik-baiknya bulan ramadhan dengan penuh keikhlasan untuk beribadah kepada Allah SWT, semoga kita dipertemukan lagi dengan bulan ramadhan berikutnya.
Kemudian diakhir bulan Ramadhan atau sebelum Hari raya Idul Fitri (I syawal) kita diwajibkan membayar zakat karena merupakan salah satu rukun islam . Hikmah dari Zakat adalah untuk membersihkan segala macam dosa dalam diri, pembersih harta, menghilangkan sifat kikir, sebagai tanda syukur atas nikmat Alloh, sebagai penjalin cinta dan kasih sayang antara yang kaya dan miskin dan sekaligus penyempurna Ibadah Puasa kita.
Harapan dengan datangnya bulan ramadhan yang suci ini berdampak positif, timbulnya keshalihan akhlak yang menuju kepada moralitas yang baik untuk membentengi masyarakat kita dari dampak negatif derasnya arus globalisasi serta keshalihan sosial karena dengan puasa menahan lapar dan dahaga, kita bisa merasakan kehidupan orang miskin, sehingga menimbulkan “Human Interest”, yang berupa kepedulian sosial, saling membantu (Tolong-menolonglah dalam berbuat kebaikan dan jangan tolong menolong dalam berbuat kemungkaran), dan dengan puasa yang penuh ikhlas dan iman, dapat mencapai tujuan puasa yang sebenarnya yaitu menjadi manusia yang Muttaqin.
Di penghujung Ramadhan kita jemput Idul Fitri diharuskan kita menjadi manusia-manusia Fitri yang bersih dari khilaf dan dosa, menjadikan kita manusia yang sholeh dan sholehah dalam beribadah maqdhoh sekaligus menjadikan kita manusia yang mempunyai keshalihan sosial.
Label:
agama,
pendidikan,
sosial kemasyarakatan
Kamis, 22 Juli 2010
Dongeng Tentang Anak Musang
Harian Bernas Jogja
Minggu, 18 Juli 2010
Cerita : Ali Puspa Edi
Ada seekor Musang Janda, punya seekor anak bernama “Luwik “. Suatu hari musang betina berpamitan ke anaknya “Luwik“ untuk pergi ke pasar, sudah menjadi kebiasaan musang betina setiap hari pergi ke pasar, mencari makanan untuk anaknya yang masih kecil. Sore harinya ia pasti pulang dengan membawa makanan bagi anaknya.
Hari itu sudah menjelang matahari terbenam, Musang Betina tidak kunjung pulang, Luwik terus menanti. Sampai malam tiba tidak juga Pulang, Luwik terus menangis sambil memanggil-manggil Induknya, ia berkata “ibu pergi ke pasar kenapa nggak pulang-pulang..., Ibu....,” Si Luwik terus menangis hingga pagi, bahkan sampai siang terus memanggil-manggil Induknya.
Tangisan si Luwik itu, terdengar pamannya Tawon Kumbang, pamannya datang menghampiri si Luwik sambil bertanya “Ada apa Luwik... Kamu kok menangis terus”, diamlah...! “Paman... ,kemarin ibuku bilang akan pergi kepasar, tapi sampai sekarang tidak pulang, “kata Luwik.
“Diamlah, nanti Ibumu akan segera pulang. Ini aku buatkan kamu sebuah seruling. Bisakah kamu membunyikan seruling ini? Coba aku ajari ya.”
Ketika Pamannya meniup seruling, Luwik mendengar bunyi yang lucu “Sri ali-ali dongengane luwak luwik unine Brengkoteplok unine brengkotteplok “
“ini serulingnya, bunyikan sendiri ya..sambil menanti ibumu pulang! saya akan pergi , jangan menangis lagi..Pinta Pamannya
Ketahuilah bahwa sebenarnya seruling dari pamannya itu terbuat dari tulang paha Induknya Luwik sendiri, tapi oleh Pamannya dibuatkan seruling sedemikian baiknya, agar Luwik tidak tahu bahwa seruling itu berasal dari tulang paha induknya.
Setiap hari Luwik terus membunyikan serulingnya, sampai ia lupa pada Induknya. Ketika Luwik sedang membunyikan serulingnya, terdengar seekor kera putih yang ada diatas pohon. Ia tertarik suara merdu seruling luwik. Lalu ia mendekati dan merayu Luwik agar dipinjami seruling. Namun Luwik tidak mau memberikan serulingnya, Si Kera Putih terus membujuk dan merayu luwik agar dipinjami untuk membunyikan serulingnya itu, “sebentar saja” rayu si kera putih. Berkat bujukan serta rayuannya, akhirnya serulingnya diberikan kepada kera putih. Dengan catatan boleh dibunyikan tapi tidak boleh dibawa lari.
Namun bagaimana kenyatannya? setelah serulingnya diberikan. Luwik terlena tidak memperhatikan ke arah kera putih. Akhirnya si kera putih membawa lari seruling luwik naik keatas pohon yang besar sambil mengejek dan membunyikanya.
Luwik akhirnya teringat lagi pada Induknya, ia terus memanggil-manggil induknya, Tangisan Luwik terdengar pamannya Tawon Kumbang, yang kemudian mendekat dan berkata “ kenapa Luwik, kamu kok menangis lagi? Kemana serulingmu? “serulingku direbut oleh si kera putih, dan dibawa lari keatas pohon besar itu, “kata si luwik sambil menunjuk keatas.
“Diamlah, akan aku mintakan serulingmu dari si kera putih itu, “kata Pamannya.
Tawon Kumbang memanggil anak buahnya serta teman-temannya dan berkumpul banyak sekali. Lalu tawon-tawon tersebut mencari kera putih. Setelah ketemu, mereka ramai-ramai menyengatnya, sehingga badan kera putih melepuh besar, ia tak kuasa menahan sakit, dan seruling pun luwik jatuh kebawah. Di ambilnya seruling itu oleh Pamannya dan diberikan kepada luwik. Luwik pun langsung diam tidak menangis lagi. Pamannya beserta tawon-tawon yang lain berpamitan untuk segera pergi. Kera Putih itupun menangis keras-keras sambil menahan sakit diatas pohon besar.
. Tindakan Kera putih tersebut memberi contoh pada kita semua, barangsiapa berbuat jahat, dia akan menerima balasannya.(Penulis tinggal di Ngawi Jawa Timur)
Minggu, 18 Juli 2010
Cerita : Ali Puspa Edi
Ada seekor Musang Janda, punya seekor anak bernama “Luwik “. Suatu hari musang betina berpamitan ke anaknya “Luwik“ untuk pergi ke pasar, sudah menjadi kebiasaan musang betina setiap hari pergi ke pasar, mencari makanan untuk anaknya yang masih kecil. Sore harinya ia pasti pulang dengan membawa makanan bagi anaknya.
Hari itu sudah menjelang matahari terbenam, Musang Betina tidak kunjung pulang, Luwik terus menanti. Sampai malam tiba tidak juga Pulang, Luwik terus menangis sambil memanggil-manggil Induknya, ia berkata “ibu pergi ke pasar kenapa nggak pulang-pulang..., Ibu....,” Si Luwik terus menangis hingga pagi, bahkan sampai siang terus memanggil-manggil Induknya.
Tangisan si Luwik itu, terdengar pamannya Tawon Kumbang, pamannya datang menghampiri si Luwik sambil bertanya “Ada apa Luwik... Kamu kok menangis terus”, diamlah...! “Paman... ,kemarin ibuku bilang akan pergi kepasar, tapi sampai sekarang tidak pulang, “kata Luwik.
“Diamlah, nanti Ibumu akan segera pulang. Ini aku buatkan kamu sebuah seruling. Bisakah kamu membunyikan seruling ini? Coba aku ajari ya.”
Ketika Pamannya meniup seruling, Luwik mendengar bunyi yang lucu “Sri ali-ali dongengane luwak luwik unine Brengkoteplok unine brengkotteplok “
“ini serulingnya, bunyikan sendiri ya..sambil menanti ibumu pulang! saya akan pergi , jangan menangis lagi..Pinta Pamannya
Ketahuilah bahwa sebenarnya seruling dari pamannya itu terbuat dari tulang paha Induknya Luwik sendiri, tapi oleh Pamannya dibuatkan seruling sedemikian baiknya, agar Luwik tidak tahu bahwa seruling itu berasal dari tulang paha induknya.
Setiap hari Luwik terus membunyikan serulingnya, sampai ia lupa pada Induknya. Ketika Luwik sedang membunyikan serulingnya, terdengar seekor kera putih yang ada diatas pohon. Ia tertarik suara merdu seruling luwik. Lalu ia mendekati dan merayu Luwik agar dipinjami seruling. Namun Luwik tidak mau memberikan serulingnya, Si Kera Putih terus membujuk dan merayu luwik agar dipinjami untuk membunyikan serulingnya itu, “sebentar saja” rayu si kera putih. Berkat bujukan serta rayuannya, akhirnya serulingnya diberikan kepada kera putih. Dengan catatan boleh dibunyikan tapi tidak boleh dibawa lari.
Namun bagaimana kenyatannya? setelah serulingnya diberikan. Luwik terlena tidak memperhatikan ke arah kera putih. Akhirnya si kera putih membawa lari seruling luwik naik keatas pohon yang besar sambil mengejek dan membunyikanya.
Luwik akhirnya teringat lagi pada Induknya, ia terus memanggil-manggil induknya, Tangisan Luwik terdengar pamannya Tawon Kumbang, yang kemudian mendekat dan berkata “ kenapa Luwik, kamu kok menangis lagi? Kemana serulingmu? “serulingku direbut oleh si kera putih, dan dibawa lari keatas pohon besar itu, “kata si luwik sambil menunjuk keatas.
“Diamlah, akan aku mintakan serulingmu dari si kera putih itu, “kata Pamannya.
Tawon Kumbang memanggil anak buahnya serta teman-temannya dan berkumpul banyak sekali. Lalu tawon-tawon tersebut mencari kera putih. Setelah ketemu, mereka ramai-ramai menyengatnya, sehingga badan kera putih melepuh besar, ia tak kuasa menahan sakit, dan seruling pun luwik jatuh kebawah. Di ambilnya seruling itu oleh Pamannya dan diberikan kepada luwik. Luwik pun langsung diam tidak menangis lagi. Pamannya beserta tawon-tawon yang lain berpamitan untuk segera pergi. Kera Putih itupun menangis keras-keras sambil menahan sakit diatas pohon besar.
. Tindakan Kera putih tersebut memberi contoh pada kita semua, barangsiapa berbuat jahat, dia akan menerima balasannya.(Penulis tinggal di Ngawi Jawa Timur)
Minggu, 23 Mei 2010
MEMBANGKITKAN GENERASI UNGGUL DENGAN PENDIDIKAN UTUH
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Mari kita lihat, cermin pelaksanaan pendidikan dinegeri ini, hanya menganggap peserta didik berprestasi kalau mereka mempunyai nilai tertinggi. Pendidikan kita tidak memandang peserta didik secara menyeluruh. Yang dinilai dalam masa evaluasi peserta didik hanya aspek akademis semata. Ini tertuang dalam nilai Ujian Nasional atau IP (indeks prestasi) saja. Aspek kecerdasan moral atau akhlak sama sekali tidak diperhitungkan. Dengan demikian, boleh jadi mereka tidak peka terhadap penderitaan rakyat. Orientasinya sudah berbeda. Buat apa mengangkat kehidupan rakyat dengan memberdayakan mereka dari ketertinggalan. Yang dipikirkan bagaimana dirinya aman, dan bisa mencapai kemakmuran hidupnya sendiri. Problem-problem sosial juga sering terjadi di kalangan peserta didik seperti tawuran, narkoba, seks bebas, dan berbagai bentuk kenakalan remaja lainnya telah turut mempertebal "mendung kelabu" yang menaungi dunia pendidikan.
Pendidikan yang ideal seharusnya juga memperhatikan semua aspek dalam perkembangan peserta didik. Sebab, sejatinya pendidikan memang berkaitan dengan banyak aspek. Mereka yang rapornya bagus, misalnya belum tentu memiliki sensitivitas terhadap persoalan di sekitarnya. Misalnya, ketika kawan sekelasnya terserang penyakit atau masalah keluarga, apakah mereka yang beraport bagus itu punya kepedulian.
Memang dari segi akademis, hal itu sebagai langkah baik. Apalagi dalam konteks mengejar ilmu pengetahuan, kita memang masih tertinggal dibanding dengan negara-negara lain. Namun, dengan mengabaikan aspek non akademis, peserta didik akan kehilangan kepribadian dan menjadi tidak peka terhadap persoalan di sekitarnya.
Pendidikan non formal dengan metode, paradigma dan sistematikanya juga bermunculan misalnya berdirinya sekolah alam dan home schooling yang rasio belajar di dalam dan di luar kelas 30 : 70. Belajar di luar kelas bertujuan menumbuhkan kesadaran dan empati anak terhadap lingkungan, sehingga terbiasa merawat dan peduli lingkungan, pengembangan kepribadian yang berakhlak dan mengintegrasi nilai-nilai kemanusiaan atau human value ke dalam pembelajaran dan membiasakan seorang anak memecahkan suatu masalah, menciptakan suatu karya, mampu mengamati apa yang ada dan terjadi disekitarnya, serta mempresentasikan sesuai dengan tingkatan usianya. Fenomena bermunculannya sekolah-sekolah alam dan Home Schooling di kota seperti, sekolah alam depok, sekolah alam bandung, sekolah alam cikeas, dll dengan menawarkan kurikulum dan paradigma yang berbeda dengan sekolah formal, sejauh ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah.
Lahirnya generasi yang unggul, tangguh, cerdas, serta memiliki mental kemandirian tinggi ditunggu kehadirannya dalam mewujudkan kebangkitan bagi negeri ini. Generasi seperti ini hanya bisa dilahirkan dari sebuah sistem pendidikan yang utuh. Sistem pendidikan yang Utuh tidak cukup hanya mengembangkan kecerdasan Intelegensia (IQ) semata, melainkan harus mendayagunakan dan mengembangkan Kecerdasan Emosi (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) serta kecerdasan-kecerdasan lain.
Keberadaan Sekolah Alam dan Home Schooling ini bisa menciptakan generasi unggul yang bisa menjawab tantangan zaman terutama untuk era globalisasi ini, meskipun Pendidikan ini terasa mahal dan adanya dikota-kota besar ini mungkin bisa kita transformasikan kurikulum dan metodenya ke pendidikan di daerah-daerah dan semoga bisa terjangkau masyarakat. Dengan demikian akan tercipta Pendidikan yang utuh dapat menciptakan generasi unggul yang menguasai Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi (Iptek) serta memiliki Iman dan Taqwa (Imtaq) dan menjadikan bangsa ini bangkit dari semua keterpurukan dari berbagai bidang dan menjadi bangsa yang unggul di masa depan.
Mari kita lihat, cermin pelaksanaan pendidikan dinegeri ini, hanya menganggap peserta didik berprestasi kalau mereka mempunyai nilai tertinggi. Pendidikan kita tidak memandang peserta didik secara menyeluruh. Yang dinilai dalam masa evaluasi peserta didik hanya aspek akademis semata. Ini tertuang dalam nilai Ujian Nasional atau IP (indeks prestasi) saja. Aspek kecerdasan moral atau akhlak sama sekali tidak diperhitungkan. Dengan demikian, boleh jadi mereka tidak peka terhadap penderitaan rakyat. Orientasinya sudah berbeda. Buat apa mengangkat kehidupan rakyat dengan memberdayakan mereka dari ketertinggalan. Yang dipikirkan bagaimana dirinya aman, dan bisa mencapai kemakmuran hidupnya sendiri. Problem-problem sosial juga sering terjadi di kalangan peserta didik seperti tawuran, narkoba, seks bebas, dan berbagai bentuk kenakalan remaja lainnya telah turut mempertebal "mendung kelabu" yang menaungi dunia pendidikan.
Pendidikan yang ideal seharusnya juga memperhatikan semua aspek dalam perkembangan peserta didik. Sebab, sejatinya pendidikan memang berkaitan dengan banyak aspek. Mereka yang rapornya bagus, misalnya belum tentu memiliki sensitivitas terhadap persoalan di sekitarnya. Misalnya, ketika kawan sekelasnya terserang penyakit atau masalah keluarga, apakah mereka yang beraport bagus itu punya kepedulian.
Memang dari segi akademis, hal itu sebagai langkah baik. Apalagi dalam konteks mengejar ilmu pengetahuan, kita memang masih tertinggal dibanding dengan negara-negara lain. Namun, dengan mengabaikan aspek non akademis, peserta didik akan kehilangan kepribadian dan menjadi tidak peka terhadap persoalan di sekitarnya.
Pendidikan non formal dengan metode, paradigma dan sistematikanya juga bermunculan misalnya berdirinya sekolah alam dan home schooling yang rasio belajar di dalam dan di luar kelas 30 : 70. Belajar di luar kelas bertujuan menumbuhkan kesadaran dan empati anak terhadap lingkungan, sehingga terbiasa merawat dan peduli lingkungan, pengembangan kepribadian yang berakhlak dan mengintegrasi nilai-nilai kemanusiaan atau human value ke dalam pembelajaran dan membiasakan seorang anak memecahkan suatu masalah, menciptakan suatu karya, mampu mengamati apa yang ada dan terjadi disekitarnya, serta mempresentasikan sesuai dengan tingkatan usianya. Fenomena bermunculannya sekolah-sekolah alam dan Home Schooling di kota seperti, sekolah alam depok, sekolah alam bandung, sekolah alam cikeas, dll dengan menawarkan kurikulum dan paradigma yang berbeda dengan sekolah formal, sejauh ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah.
Lahirnya generasi yang unggul, tangguh, cerdas, serta memiliki mental kemandirian tinggi ditunggu kehadirannya dalam mewujudkan kebangkitan bagi negeri ini. Generasi seperti ini hanya bisa dilahirkan dari sebuah sistem pendidikan yang utuh. Sistem pendidikan yang Utuh tidak cukup hanya mengembangkan kecerdasan Intelegensia (IQ) semata, melainkan harus mendayagunakan dan mengembangkan Kecerdasan Emosi (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) serta kecerdasan-kecerdasan lain.
Keberadaan Sekolah Alam dan Home Schooling ini bisa menciptakan generasi unggul yang bisa menjawab tantangan zaman terutama untuk era globalisasi ini, meskipun Pendidikan ini terasa mahal dan adanya dikota-kota besar ini mungkin bisa kita transformasikan kurikulum dan metodenya ke pendidikan di daerah-daerah dan semoga bisa terjangkau masyarakat. Dengan demikian akan tercipta Pendidikan yang utuh dapat menciptakan generasi unggul yang menguasai Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi (Iptek) serta memiliki Iman dan Taqwa (Imtaq) dan menjadikan bangsa ini bangkit dari semua keterpurukan dari berbagai bidang dan menjadi bangsa yang unggul di masa depan.
Label:
agama,
ilmu pengetahuan,
pendidikan
Minggu, 16 Mei 2010
Puisi Untuk Anakku
Alyhad Rifqi Al Habib, Hasna Maulida Mutaqinna
Anakku...
Anakku ...
Roda hidup terus berputar
Jangan patah semangat
Injak setiap kerikil tajam membentang
Sakit memang...Tapi itu akan membuatmu tenang
Anakku ....
Bergeraklah...
Di setiap ada ketidakadilan
Hadapi dengan segala kekuatan
Ingat Tuhan bersama kita, nak
Anakku ..
Jadilah dirimu Rajawali
Sayapnya mengepak penuh wibawa
Sorot matanya tajam penuh kepastian
Terbang tinggi penuh kegagahan
Kakinya kokoh mencekram dahan kebenaran
Anakku ....
Jangan jadikan dirimu pahlawan
Jadikan dirimu sejarah yang rupawan
Jangan banyak berharap orang mengenangmu
Tersenyumlah nanti dialam kuburmu
Anakku II
Anakku...
Panglimamu adalah keberanian
Kekuatanmu adalah kesabaran
Kendaraanmu adalah keteguhan
Jiwamu adalah kesadaran..
Anakku..
Kuatkan akan prinsip hidupmu
Jangan tatap kehidupan yang semu
Asa akan selalu menghinggapimu
Kebaikkan akan selalu menghiasi hatimu...
Anakku...
Bertemanlah dengan kebaikan
Ucapkan selalu kebenaran
Bertemanlah dengan yang papa
NikmatMu akan terus menyapa
Alyhad Rifqi Al Habib, Hasna Maulida Mutaqinna
Anakku...
Hidup terbentang dihadapanmu
Badai gelombang pasti menerpamu
Bersikaplah seperi karang, nak
Tatap gelombang dengan keberanian..
Anakku ...
Roda hidup terus berputar
Jangan patah semangat
Injak setiap kerikil tajam membentang
Sakit memang...Tapi itu akan membuatmu tenang
Anakku ....
Bergeraklah...
Di setiap ada ketidakadilan
Hadapi dengan segala kekuatan
Ingat Tuhan bersama kita, nak
Anakku ..
Jadilah dirimu Rajawali
Sayapnya mengepak penuh wibawa
Sorot matanya tajam penuh kepastian
Terbang tinggi penuh kegagahan
Kakinya kokoh mencekram dahan kebenaran
Anakku ....
Jangan jadikan dirimu pahlawan
Jadikan dirimu sejarah yang rupawan
Jangan banyak berharap orang mengenangmu
Tersenyumlah nanti dialam kuburmu
Anakku II
Anakku...
Panglimamu adalah keberanian
Kekuatanmu adalah kesabaran
Kendaraanmu adalah keteguhan
Jiwamu adalah kesadaran..
Anakku..
Kuatkan akan prinsip hidupmu
Jangan tatap kehidupan yang semu
Asa akan selalu menghinggapimu
Kebaikkan akan selalu menghiasi hatimu...
Anakku...
Bertemanlah dengan kebaikan
Ucapkan selalu kebenaran
Bertemanlah dengan yang papa
NikmatMu akan terus menyapa
Rabu, 07 April 2010
KEPEMIMPINAN PEMUDA
Di tangan pemudalah masa depan suatu bangsa. Fakta-fakta sejarah membuktikan peranan pemuda memberikan kontribusi yang penting dalam memperjuangkan kemerdekaan. Pemuda adalah suatu fase pertengahan/transisi antara generasi anak dengan generasi tua.
Sekarang ini banyak persepsi negatif tentang pemuda, banyak generasi muda kita sekarang berjiwa hedonism, pembuat rusuh, tidak peduli dengan nasib negaranya, mementingkan dirinya sendiri, pergaulan bebas dan narkoba, aborsi bahkan tindakan kriminalitas yang lain.
Globalisasi ini, kita memerlukan pemuda yang berkualitas yang mempunyai jiwa kepemimpinan untuk proses regenerasi dan mampu menghadapi tantangan zaman.
Kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi yang menyangkut transaksi antara pemimpin dan bawahan. Pemimpin memberikan kontribusi yang besar terhadap keberhasilan suatu organisasi/lembaga.
Generasi muda yang mempunyai kualitas jiwa pemimpin yang ber-karakter diantaranya : Memiliki religiuitas yang kuat, Idealis, Visioner dan Inovatif, Responsiv and sense humanism, Pemberani, Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan tehnologi.
Religiuitas yang kuat
Seorang pemimpin muda harus mempunyai dasar Agama yang kokoh, seprti yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw yang mempunyai sifat kepemimpinan Sidiq : Jujur, Amanah ; dapat dipercaya, Tabligh : menyampaikan kebenaran, Fathonah : Cerdas dan berakhlak mulia.
Idealisme
Idealisme yang dipupuk di masa belajar harus diikuti dengan semangat profesionalisme ketika merintis kerja. Karakter professional ini yang kurang dari kalangan pemuda dan profesional inilah yang memerlukan pembelajaran secara kontinyu
Visioner dan inovatif
seorang pemimpin muda harus berpikir maju jauh kedepan sesuai tuntutan zaman dan bervisi strategis dan mempunyai ide-ide segar serta mempunyai paradigma-paradigma baru dalam memberikan problem solving terhadap sebuah permasalahan.
Responsiv dan sense of humanism
Seorang pemimpin muda harus mempunyai daya sigap dan tanggap yang tinggi terhadap permasalahan-permasalahan sosial dan mempunyai rasa kemanusian terhadap lingkungan sekitarnya, dengan sensivitas akan diperoleh kecepatan dalam menangani suatu permasalahan.
Pemberani
Seorang pemimpin muda harus berani mengemban amanat, berani menerima tantangan, berani mengambil suatu resiko, berani dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.
Penguasaan ilmu pengetahuan dan tehnologi
Seorang pemimpin muda pada zaman globalisasi harus bisa menguasai bahasa asing/internasional.
Iptek sekarang ini tidak terlepas dari kehidupan kita, semakin maju zaman semakin pula kita harus menguasai tehnologi, tapi jangan mudah diperbudak oleh tehnologi.
Pemuda merupakan fase yang bagus untuk kaderisasi kepemimpinan. maka
bisa digalakkan lagi forum-forum kepemudaan, misalnya ; OSIS, Karang Taruna, ataupun organisasi yang banyak tersedia dimana-mana untuk membentuk jiwa kepemimpinan, disamping untuk terus belajar mencari ilmu pengetahuan, sebab dari forum-forum inilah dulu orang-orang besar negeri ini dilahirkan. Bila Pemuda sekarang mempunyai kecerdasan Ilmu Pengetahuan, Spiritual dan Sosial, sudah saatnya pemuda siap menggantikan kepemimpinan generasi pendahulunya. Sayyidina Ali karramallahu wajhah menuturkan “Bukanlah pemuda seseorang yang mengatakan inilah bapakku, tetapi yang dikatakan pemuda adalah dia yang berani mengatakan inilah aku“, untuk itu jangan jadi pemuda yang membanggakan kesuksesan orangtuanya/pendahulunya, tapi jadilah pemuda yang membanggakan kesuksesannya sendiri.
Sekarang ini banyak persepsi negatif tentang pemuda, banyak generasi muda kita sekarang berjiwa hedonism, pembuat rusuh, tidak peduli dengan nasib negaranya, mementingkan dirinya sendiri, pergaulan bebas dan narkoba, aborsi bahkan tindakan kriminalitas yang lain.
Globalisasi ini, kita memerlukan pemuda yang berkualitas yang mempunyai jiwa kepemimpinan untuk proses regenerasi dan mampu menghadapi tantangan zaman.
Kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi yang menyangkut transaksi antara pemimpin dan bawahan. Pemimpin memberikan kontribusi yang besar terhadap keberhasilan suatu organisasi/lembaga.
Generasi muda yang mempunyai kualitas jiwa pemimpin yang ber-karakter diantaranya : Memiliki religiuitas yang kuat, Idealis, Visioner dan Inovatif, Responsiv and sense humanism, Pemberani, Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan tehnologi.
Religiuitas yang kuat
Seorang pemimpin muda harus mempunyai dasar Agama yang kokoh, seprti yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw yang mempunyai sifat kepemimpinan Sidiq : Jujur, Amanah ; dapat dipercaya, Tabligh : menyampaikan kebenaran, Fathonah : Cerdas dan berakhlak mulia.
Idealisme
Idealisme yang dipupuk di masa belajar harus diikuti dengan semangat profesionalisme ketika merintis kerja. Karakter professional ini yang kurang dari kalangan pemuda dan profesional inilah yang memerlukan pembelajaran secara kontinyu
Visioner dan inovatif
seorang pemimpin muda harus berpikir maju jauh kedepan sesuai tuntutan zaman dan bervisi strategis dan mempunyai ide-ide segar serta mempunyai paradigma-paradigma baru dalam memberikan problem solving terhadap sebuah permasalahan.
Responsiv dan sense of humanism
Seorang pemimpin muda harus mempunyai daya sigap dan tanggap yang tinggi terhadap permasalahan-permasalahan sosial dan mempunyai rasa kemanusian terhadap lingkungan sekitarnya, dengan sensivitas akan diperoleh kecepatan dalam menangani suatu permasalahan.
Pemberani
Seorang pemimpin muda harus berani mengemban amanat, berani menerima tantangan, berani mengambil suatu resiko, berani dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.
Penguasaan ilmu pengetahuan dan tehnologi
Seorang pemimpin muda pada zaman globalisasi harus bisa menguasai bahasa asing/internasional.
Iptek sekarang ini tidak terlepas dari kehidupan kita, semakin maju zaman semakin pula kita harus menguasai tehnologi, tapi jangan mudah diperbudak oleh tehnologi.
Pemuda merupakan fase yang bagus untuk kaderisasi kepemimpinan. maka
bisa digalakkan lagi forum-forum kepemudaan, misalnya ; OSIS, Karang Taruna, ataupun organisasi yang banyak tersedia dimana-mana untuk membentuk jiwa kepemimpinan, disamping untuk terus belajar mencari ilmu pengetahuan, sebab dari forum-forum inilah dulu orang-orang besar negeri ini dilahirkan. Bila Pemuda sekarang mempunyai kecerdasan Ilmu Pengetahuan, Spiritual dan Sosial, sudah saatnya pemuda siap menggantikan kepemimpinan generasi pendahulunya. Sayyidina Ali karramallahu wajhah menuturkan “Bukanlah pemuda seseorang yang mengatakan inilah bapakku, tetapi yang dikatakan pemuda adalah dia yang berani mengatakan inilah aku“, untuk itu jangan jadi pemuda yang membanggakan kesuksesan orangtuanya/pendahulunya, tapi jadilah pemuda yang membanggakan kesuksesannya sendiri.
Senin, 22 Maret 2010
Tekanan hidup dan Sebuah harapan
Tekanan hidup dan Sebuah harapan
Tekanan hidup semua orang pasti merasakan, baik berupa tekanan phsikis ataupun tekanan batin, semua orang akan selalu menghindari segala bentuk tekanan hidup. Tekanan mengganggu kenyamanan hidup, membatasi ruang gerak dan menumpulkan daya kreativitas kita. Dibalik tekanan hidup dan sebuah harapan apabila bisa kita tangani dengan baik akan menghasilkan sesuatu yang besar. Tekanan hidup sebenarnya justru berguna untuk merangsang munculnya potensi-potensi yang terpendam dalam diri seseorang. Hidup dalam situasi yang normal biasanya malah membuat hidup jadi malas, kurang kreatif dan kurang produktif. Tapi manusia butuh stimulan/rangsangan untuk bergerak. Dari sebuah tekanan hidup dan sebuah harapan merupakan salah satu stimulan/rangsangan itu.
Harapan adalah ketergantungan hati terhadap sesuatu yang dicintai yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Harapan merupakan ruh dalam menggapai suatu tujuan, baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat. Harapan bukannlah suatu bentuk dari ketamakan. Akan tetapi kunci dari bangkitnya manusia dari keterpurukan. Harapan berbeda dengan angan-angan. Perbedaan harapan dan angan-angan terletak pada nilai dan dampaknya. Angan-angan bisa bisa menyebabkan orang menjadi malas dan tidak mau berjerih payah. Sedangkan harapan merupakan perbuatan terpuji.
Harapan bisa menjadi pelita kehidupan. Harapan mampu mengubah hutan belantara menjadi surga. Orang yang sakit menjadi sehat. Yang jatuh akan bangkit. Sesuatu yang secara hitungan matematis tidak bisa, tidak mampu dan tidak mungkin dicapai, maka dengan sebuah harapan semua akan menjadi bisa, menjadi mampu dan menjadi mungkin. Betapa dahsyatnya sebuah harapan dalam kehidupan. Seorang Ibu menyusui, membimbing mengarahkan putra-putrinya dengan tiada henti, karena berharap kelak mereka akan menjadi anak yang berbakti. Seorang bapak bekerja dengan giat. Jauh dan berat tidaklah menjadi rintangan. Semua itu karena ia mempunyai harapan utnuk keluarganya. Begitu juga dengan seorang pimpinan, Ia akan bijak dan adil karena berharap perbuatannya akan menjadi teladan .
Para Pemimpin-Pemimpin Besar, Pengusaha Sukses, Dia pasti berawal dari bawah tidak langsung menjadi sukses ataupun besar. Berawal dari tekanan hidup, serba kekurangan, dipenjara, dan bentuk tekanan hidup lainnya, mereka mampu mempertahankan harapan dan optimisme hidup sehingga timbul niat dan kemauan yang besar sehingga membentuk kunci daya hidup mereka. Banyak karya-karya besar tercipta karena adanya tekanan pada pengarangnya. Pemimpin besar seperti Ir. Soekarno muncul dikarenakan tekanan dari penjajahan dengan sebuah harapan yang sudah tercapai, yaitu kemerdekaan.
Ketika seseorang kehilangan sebuah harapan maka yang ada hanyalah keputusasaan. Bagi seorang yang beragama keputusasaan itu larangan. Baik dalam urusan dunia ataupun urusan akhirat.
Orang yang berputus asa tidak akan memiliki kepercayaan baik pada dirinya maupun pada Tuhan. Karena ia telah menjustifikasikan dirinya dengan kegagalan. Dampak yang timbul dari keputus asaan terkadang stress, down, menyakiti diri sendiri, bunuh diri, berprasangka kepada orang lain juga kepada Tuhan..
Dengan tekanan hidup dan sebuah harapan membuat mereka selalu tampak santai dalam kesibukan, tersenyum dalam kesedihan, tenang dibawah tekanan, bekerja dalam kesulitan, optimis didepan tantangan, dan gembira dalam segala situasi. Jika ingin langkah kehidupan ini menjadi indah, maka harus ada sebuah harapan yang menyertainya. Bangunlah harapan agar hidup ini lebih berwarna. Lebih baik hidup dengan sebuah harapan daripada hidup dengan sejuta impian
Tekanan hidup semua orang pasti merasakan, baik berupa tekanan phsikis ataupun tekanan batin, semua orang akan selalu menghindari segala bentuk tekanan hidup. Tekanan mengganggu kenyamanan hidup, membatasi ruang gerak dan menumpulkan daya kreativitas kita. Dibalik tekanan hidup dan sebuah harapan apabila bisa kita tangani dengan baik akan menghasilkan sesuatu yang besar. Tekanan hidup sebenarnya justru berguna untuk merangsang munculnya potensi-potensi yang terpendam dalam diri seseorang. Hidup dalam situasi yang normal biasanya malah membuat hidup jadi malas, kurang kreatif dan kurang produktif. Tapi manusia butuh stimulan/rangsangan untuk bergerak. Dari sebuah tekanan hidup dan sebuah harapan merupakan salah satu stimulan/rangsangan itu.
Harapan adalah ketergantungan hati terhadap sesuatu yang dicintai yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Harapan merupakan ruh dalam menggapai suatu tujuan, baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat. Harapan bukannlah suatu bentuk dari ketamakan. Akan tetapi kunci dari bangkitnya manusia dari keterpurukan. Harapan berbeda dengan angan-angan. Perbedaan harapan dan angan-angan terletak pada nilai dan dampaknya. Angan-angan bisa bisa menyebabkan orang menjadi malas dan tidak mau berjerih payah. Sedangkan harapan merupakan perbuatan terpuji.
Harapan bisa menjadi pelita kehidupan. Harapan mampu mengubah hutan belantara menjadi surga. Orang yang sakit menjadi sehat. Yang jatuh akan bangkit. Sesuatu yang secara hitungan matematis tidak bisa, tidak mampu dan tidak mungkin dicapai, maka dengan sebuah harapan semua akan menjadi bisa, menjadi mampu dan menjadi mungkin. Betapa dahsyatnya sebuah harapan dalam kehidupan. Seorang Ibu menyusui, membimbing mengarahkan putra-putrinya dengan tiada henti, karena berharap kelak mereka akan menjadi anak yang berbakti. Seorang bapak bekerja dengan giat. Jauh dan berat tidaklah menjadi rintangan. Semua itu karena ia mempunyai harapan utnuk keluarganya. Begitu juga dengan seorang pimpinan, Ia akan bijak dan adil karena berharap perbuatannya akan menjadi teladan .
Para Pemimpin-Pemimpin Besar, Pengusaha Sukses, Dia pasti berawal dari bawah tidak langsung menjadi sukses ataupun besar. Berawal dari tekanan hidup, serba kekurangan, dipenjara, dan bentuk tekanan hidup lainnya, mereka mampu mempertahankan harapan dan optimisme hidup sehingga timbul niat dan kemauan yang besar sehingga membentuk kunci daya hidup mereka. Banyak karya-karya besar tercipta karena adanya tekanan pada pengarangnya. Pemimpin besar seperti Ir. Soekarno muncul dikarenakan tekanan dari penjajahan dengan sebuah harapan yang sudah tercapai, yaitu kemerdekaan.
Ketika seseorang kehilangan sebuah harapan maka yang ada hanyalah keputusasaan. Bagi seorang yang beragama keputusasaan itu larangan. Baik dalam urusan dunia ataupun urusan akhirat.
Orang yang berputus asa tidak akan memiliki kepercayaan baik pada dirinya maupun pada Tuhan. Karena ia telah menjustifikasikan dirinya dengan kegagalan. Dampak yang timbul dari keputus asaan terkadang stress, down, menyakiti diri sendiri, bunuh diri, berprasangka kepada orang lain juga kepada Tuhan..
Dengan tekanan hidup dan sebuah harapan membuat mereka selalu tampak santai dalam kesibukan, tersenyum dalam kesedihan, tenang dibawah tekanan, bekerja dalam kesulitan, optimis didepan tantangan, dan gembira dalam segala situasi. Jika ingin langkah kehidupan ini menjadi indah, maka harus ada sebuah harapan yang menyertainya. Bangunlah harapan agar hidup ini lebih berwarna. Lebih baik hidup dengan sebuah harapan daripada hidup dengan sejuta impian
Label:
agama,
Phsikologi,
sosial kemasyarakatan
Langganan:
Postingan (Atom)